Seminar yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Sukabumi dengan judul besar: Relasi Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif di Sukabumi merupakan gagasan cerdas untuk mensinergikan tiga elemen penting dalam kehidupan di wilayah urban; seni, budaya, dan ekonomi. Sebagai kota pelayanan jasa terpadu di bidang jasa, pendidikan, dan kesehatan tentu saja sangat memerlukan satu sinergitas setiap unsur penunjang eksistensi kota dalam skala urban. Bagi kota-kota yang telah dapat dikategorikan sebagai wilayah urban, kosa kata lama seperti seni dan budaya telah mengalami pergeseran secara evolutif dan merambah ke ranah ekonomi kreatif.
Sebenarnya, jika kita merujuk kepada teori sosial, kesenian sendiri merupakan bagian dari tujuh unsur kebudayaan. Artinya, seni dan hasil kreasi manusia darinya merupakan bagian dari kebudayaan yang pada akhirnya akan membentuk sebuah peradaban. H. Achmad Fahmi selaku Wali Kota Sukabumi memaparkan –dalam seminar tersebut- Kota Sukabumi harus dibawa ke arah kota yang berperadaban, sebuah kota yang di dalamnya melahirkan peradaban dan etika.
Gelombang peradaban manusia, melalui pendekatan sejarah kehidupan manusia memang telah melampaui tiga gelombang besar seperti ungkapan Toffler: Peradaban pertama lahir dari kebutuhan manusia terhadap kebutuhan hidup dari sistem food gathering ke peradaban bercocok tanam. Diikuti oleh gelombang kedua saat revolusi industri mulai menggeliat di Inggris, gelombang ketiga merupakan era dimana kita hidup merupakan akumulasi dari setiap gelombang. Pada dasarnya, lahirnya peradaban dan akibat-akibat yang menyertainya merupakan upaya manusia agar tetap survive di dalam kehidupan ini.
Ekonomi kreatif telah menjadi idiom primadona sejak gelombang teknologi dan informasi telah melarutkan bahkan menghanyutkan manusia yang hidup di mileus paska perang dingin. Lahirnya idiom ini merupakan salah satu jawaban alternatif manusia untuk menyelesaikan beberapa permasalahan sebagai dampai negative dari meluapnya bah besar gelombang ke-tiga. Di era gelombang ketiga ini, air meluap tidak lagi disebabkan oleh melelehnya lapisan es akibat pemanasan gelobal, kenyataan alam ini telah merambah pada sifat dasar manusia dan kehidupannya. Banjir informasi, banjir kata-kata, hingga banjir ungkapan yang pada akhirnya dapat membawa musibah social bagi manusia.
Kang Egon, saya dan teman-teman memanggilnya demikian, sebagai seorang arsitek yang konsern meneliti arsitektur dan heritage yang ada di Kota Sukabumi memaparkan peradaban manusia dilahirkan oleh keinginan manusia itu sendiri. Dorongan rasa berkesenian menjadi pemantik lahirnya peradaban-peradaban itu. Dari awal kehidupannya, kesenian lahir dari sifat dasar manusia agar keberadaannya dapat diakui oleh generasi-generasi seterusnya. Yang pada akhirnya, antara seni dan kebudayaan tersebut dilahirkan juga dari evolusi keyakinan manusia. Tidak akan lahir sebuah Menhir, Tugu, Pyramida, Rumah-rumah ibadah jika keyakinan tidak menjadi pendorong lahirnya bangunan-bangunan tersebut.
Obrolan saya, meskipun hanya beberapa menit dengan Kang Egon menghasilkan satu konklusi: seni dan budaya di Kota Sukabumi memang harus terus digali hingga dapat tersusun sebuah bentuk azali. Dan harus diakui, hingga sekarang, kita sebagai orang Sukabumi pun masih sering bertanya-tanya sebenarnya kesenian hingga simbol yang benar-benar dapat mewakili Sukabumi ini apa? Terhadap pertanyaan ini, sangat patut disyukuri, komunitas-komunitas dan pegiat-pegiatan yang menggandrungi bidang kesenian dan kebudayaan tidak pernah kehilangan semangat untuk terus menggali simbol utama Sukabumi. Lembaga-lembaga pelestari budaya hingga artefak-artefak Ka-Sukabumian lebih luas lagi Kasundaan terus bermunculan.
Untuk menghubungkan atau merelasikan antara seni, budaya hingga terbentuk sebuah kota yang berperadaban memang harus dilakukan dengan cara menggali seluruh unsur kebudayaan yang telah lama mengendap sampai harus bermunculan kembali ke permukaan kehidupan masyarakat Sukabumi. Analogi sederhana terhadap masalah sesuatu "yang telah hilang" seperti seorang yang sedang memejamkan mata-nya kemudian bertanya: apa yang disebut dengan cahaya? Sudah tentu jawaban terhadap soal sederhana ini tidak harus dijawab dengan teori-teori fisika dan rumus tentang cahaya, cukup membisikkan: buka saja mata, kamu akan mengetahui apa itu cahaya.
Tetapi untuk persoalan apa itu simbol, kesenian, dan kebudayaan khas Sukabumi memang sangat tidak sesederhana seseorang yang sedang memejamkan mata kemudian menanyakan cahaya. Bagi kita, generasi-generasi milenial, untuk menggali simbol, seni, dan budaya khas Sukabumi dapat dikatakan sebagai seororang yang hanya berpengetahuan tentang cahaya tetapi sama sekali tidak mengetahui apa itu cahaya.
Mengembalikan indentitas kesenian dan kebudayaan yang menyukabumi tentu akan berdampak pada nilai tambah secara finansial dan social kultural bagi Sukabumi. Sebagai salah satu contoh; kita mungkin akan mengernyitkan kening; kenapa orang-orang sangat kerasan menikmati lingkungan Provinsi Bali? Bukankah sumber daya alam terutama pemandangan di Sukabumi pun tidak kalah menarik dengan lingkungan di Bali? Hasil analisa dan kajian penulis, ada satu hal, terutama bersifat supra-rasional, kebiasaan atau tetekon yang tetap dipertahankan oleh masyarakat Bali, menjaga warisan leluhur, hubungan mereka dengan alam dapat menyajikan tarian kosmik yang memengarungi lingkungan dan alam sekitar menjadi salah satu alasan Bali tetap menarik siapapun untuk dikunjungi. Kita bisa jadi telah merasakan kehilangan dengan apa saja yang telah diwariskan oleh leluhur kita.
Kang Warsa
Posting Komentar untuk "Relasi Seni, Budaya, dan Ekonomi Kreatif"